Relakan Dia

 
puisi
Ada tanya yang menggantung di atas kepalaku.
Merebah di sana beberapa harapku yang masih saja utuh untukmu.
Di beberapa waktu,
aku sadar bahwa aku tak bisa melalui beberapa hal sendirian. Ada kalanya aku membutuhkan bahu, peluk, genggaman tangan, juga suaramu.

Hal hal seperti itu kerap membuat aku kehilangan warasku.
Bahkan tak jarang aku mencoba memastikan bahwa kamu masih menetap pada dadaku.
Sialnya, aku disadarkan pada jarum jam yang senantiasa enggan berbalik ke masa itu.
Destinasi terbaikku adalah pada pelukanmu.
Namun tidak dengan dirimu,
pelukku sudah menjadi tempat hambar yang tak pernah lagi kamu huni.

Hingga akhirnya kuterima riuh luka yang mengudara.
Yang bising menelisik sesak.
Sebab tiada harapku yang menemui asa.
Oleh pergimu yang kini jauh bersama jarak.

Teruntuk yang pernah menghuni hati,
lalu pergi tanpa permisi: kamu membuatku berpikir picik—mengira kamu akan kembali,
bukan sekadar singgah; namun berlabuh.
Dengan piciknya aku masih berharap kita bisa bersama lagi,
padahal kamu sedang asyik merajut mimpi dengan pujaan hatimu saat ini.

—Indra R dan 2712.
#Kisah2712

0 Response to "Relakan Dia"

Post a Comment